ARTIKEL PGSD

PENILAIAN BERBASIS KELAS

A. Pengertian Penilaian Berbasis Kelas

Penilaian Berbasis Kelas (PBK) adalah penilaian yang dilakukan oleh guru dalam rangka proses pembelajaran. PBK merupakan proses pengumpulan dan penggunaan informasi hasil belajar peserta didik yang dilakukan oleh guru  untuk menetapkan tingkat pencapaian dan penguasaan peserta didik terhadap tujuan pendidikan ( standar komptensi, komptensi dasar, dan indikator pencapaian hasil belajar). Penilaian Berbasis Kelas merupakan prinsip, sasaran yang akurat dan konsisten tentang kompetensi atau hasil belajar siswa serta pernyataan yang jelas mengenai perkembangan dan kemajuan siswa. maksudnya adalah hasil Penilaian Berbasis Kelas dapat menggambarkan kompetensi, keterampilan dan kemajuan siswa selama di kelas.

Depdiknas (2002), menjelaskan bahwa Penilaian Berbasis Kelas (PBK) merupakan salah satu komponen dalam kurikulum berbasis kompetensi. PBK itu sendiri pada dasarnya merupakan kegiatan penilaian yang dilaksanakan secara terpadu dalam kegiatan belajar mengajar yang dilakukan dengan mengumpulkan kerja siswa (portofolio), hasil karya (produk), penugasan (proyek), kinerja (performance), dan tes tertulis (paper and pen). Fokus penilaian diarahkan pada penguasaan kompetensi dan hasil belajar siswa sesuai dengan level pencapaian prestasi siswa.

B.  Manfaat, Keunggulan dan Prinsip Penilaian Berbasis Kelas.

1)  Hasil Penilaian Berbasis Kelas bermanfaat untuk :

  1. Umpan balik bagi siswa dalam mengetahui kemampuan dan kekurangannya sehingga menimbulkan motivasi untuk memperbaiki hasil belajarnya.
  2. Memantau kemajuan dan mendiagnosis kemampuan belajar siswa sehingga memungkinkan dilakukannya pengayaan dan remidiasi untuk memenuhi kebutuhan siswa sesuai dengan kemajuan dan kemampuannya.
  3. Memberikan masukan kepada guru untuk memperbaiki program pembelajarannya di kelas.
  4. Memungkinkan siswa mencapai kompetensi yang telah ditentukan walaupun dengan kecepatan belajar yang berbeda-beda.

2) Keunggulan Penilaian Berbasis Kelas adalah

  1. Pengumpulan informasi kemajuan belajar baik formal maupun non formal diadakan secara terpadu, dalam suasana yang menyenangkan, serta senantiasa memungkinkan adanya kesempatan yang terbaik bagi siswa untuk menunjukkan apa yang diketahui, dipahami dan mampu dikerjakan siswa.
  2. Pencapaian hasil belajar siswa tidak dibandingkan dengan prestasi kelompok (norm reference assessment), tetapi dibandingkan dengan kemampuan sebelumnya kriteria pencapaian kompetensi, standar pencapaian, dan level pencapaian nasional, dalam rangka membantu anak mencapai apa yang ingin dicapai bukan untuk menghakiminya.
  3. Pengumpulan informasi menggunakan berbagai cara, agar kemajuan belajar siswa dapat terdeteksi secara lengkap.
  4. Siswa perlu dituntut agar dapat mengeksplorasi dan memotivasi diri untuk mengerahkan semua potensi dalam menanggapi, mengatasi semua masalah yang dihadapi dengan caranya sendiri, bukan sekedar melatih siswa memilih jawaban yang tersedia.
  5. Untuk menentukan ada tidaknya kemajuan belajar dan perlu tidaknya bantuan secara berencana, bertahap dan berkesinambungan, berdasarkan fakta dan bukti yang cukup akurat.

3)  Prinsip-prinsip Penilaian Berbasis Kelas

  1. Valid, penilaian memberikan informasi yang akurat tentang hasil belajar siswa.
  2. Mendidik, penilaian harus memberikan sumbangan positif terhadap pencapaian belajar siswa.
  3. Berorientasi pada kompetensi, penilaian harus menilai pencapaian kompetensi yang dimaksud dalam kurikulum.
  4. Adil, penilaian harus adil terhadap semua siswa dengan tidak membedakan latar belakang sosial-ekonomi, budaya, bahasa dan gender.
  5. Terbuka, kriteria penilaian dan dasar pengambilan keputusan harus jelas dan terbuka bagi semua pihak.
  6. Berkesinambungan, penilaian dilakukan secara berencana, bertahap dan terus menerus untuk memperoleh gambaran tentang perkembangan belajar siswa sebagai hasil kegiatan belajarnya.  (Depdiknas, 2002).

C. Ranah Kognitif, Ranah Afektif dan Ranah Psikomotor sebagai Objek Evaluasi Hasil  Belajar.

1. Ranah Kognitif.

Ranah kognitif adalah ranah yang mencakup kegiatan mental (otak). Menurut Bloom dalam Sudijono (2003:49) segala upaya yang menyangkut aktifitas otak adalah termasuk dalam ranah kognitif. Dalam ranah kognitif terdapat 6 (enam) jenjang proses berpikir, mulai dari jenjang yang terendah sampai jenjang yang paling tinggi, yaitu : (a) Pengetahuan (Knowledge),  (b) Pemahaman (Comprehension), (c) Penerapan (Application), (d) Analisis (Analysis. (e) Sintesis (Syntesis), dan (f) Penilaian/penghargaan (Evaluation). Keenam jenjang berpikir  ranah kognitif ini bersifat kontinum dan everlap (tumpang tindih), dimana ranah yang lebih tinggi meliputi semua ranah yang ada di bawahnya.

2. Ranah Afektif.

Ranah afektif adalah ranah yang berkaitan dengan sikap dan nilai. Beberapa pakar menyatakan bhwa sukap seseorang dapat diramalkan perubahannya bila seseorang telah memiliki penguasaan kognitif tingkat tinggi. Ranah afektif ditaksonomi  menjadi lebih rinci ke dalam 5 (lima) jenjang, yaitu: (a) Menerima atau memperhatikan (Receiving/Attending), (b) menanggapi (Responding), (c) menilai (Valuing). (d) menilai atau menghargai, (e) mengatur (Organization),

3.  Ranah Psikomotor.

Ranah psikomotor adalah ranah yang berkaitan dengan keterampilan (skill) atau kemampuan bertindak setelah seseorang menerima pengalaman belajar tertentu.

D. Strategi Penilaian Berbasis Kelas.

Sekalipun tidak selalu sama, namun pada umumnya para pakar dalam bidang evaluasi/ penilaian pendidikan merinci kegiatan evaluasi hasil belajar ke dalam 6 (enam) langkah pokok, yakni:

1.  Menyusun Rencana Evaluasi Hasil Belajar.

Sebelum evaluasi hasil belajar dilaksanakan, harus disusun lebih dahulu perencanaannya secara baik dan matang. Perencanaan evaluasi hasil belajar itu umumnya oleh Sudijono (2003:59) mencakup enam jenis kegiatan, yakni: (a) Merumuskan tujuan dilaksanakannya evaluasi. (b) menetapkan aspek-aspek yang akan dievaluasi, (c) memilih dan menentukan teknik yang akan dipergunakan di dalam pelaksanaan evaluasi, (d)  Menyusun alat-alat pengukur dan penilaian hasil belajar peserta didik, (e) Menentukan tolak ukur, norma atau kriteria yang akan dijadikan pegangan atau patokan dalam memberikan interpretasi terhadap data hasil evaluasi dan (f) Menentukan frekuensi dari kegiatan evaluasi hasil belajar itu sendiri (kapan dan seberapa kali evaluasi hasil belajar itu akan dilaksanakan).

2.  Menghimpun Data.

Dalam evaluasi hasil belajar, wujud nyata dari kegiatan menghimpun data adalah melaksanakan pengukuran, misalnya dengan menyelenggarakan tes hasil belajar (apabila evaluasi hasil belajar itu menggunakan teknik tes), atau melakukan pengamatan, wawancara, atau angket dengan menggunakan instrumen-instrumen tertentu berupa rating scale, check list, interview guide, atau questionnaire (apabila evaluasi hasil belajar menggunakan teknis non tes).

3.  Melakukan Verifikasi Data.

Data yang telah berhasil dihimpun harus disaring lebih dahulu sebelum diolah lebih lanjut. Proses penyaringan itu dikenal dengan istilah penelitian data atau verifikasi data. Verifikasi data dimaksudkan untuk dapat memisahkan data yang “baik” (yaitu data yang dapat memperjelas gambaran yang akan diperoleh mengenai diri individu atau sekelompok individu yang sedang dievaluasi) dari data yang “kurang baik” (yaitu data yang akan menguburkan gambaran yang akan diperoleh apabila data itu ikut serta diolah).

4.   Mengolah dan Menganalisis Data.

Mengolah dan menganalisis hasil evaluasi dilakukan dengan maksud untuk memberikan makna terhadap data yang telah berhasil dihimpun dalam kegiatan evaluasi. Untuk keperluan itu, maka data hasil evaluasi perlu disusun dan diatur sedemikian rupa sehingga “dapat berbicara”. Dalam menggolah dan menganalisis data hasil evaluasi itu dapat dipergunakan teknik statistik dan atau teknik non statistik, tergantung kepada jenis data yang akan diolah atau dianalisis. Dengan analisis statistic misalnya, penyusunan atau pengaturan dan penyajian data lewat tabel-tabel, grafik, atau diagram, perhitungan-perhitungan rata-rata, standar deviasi, pengukuran korelasi, uji benda mean, atau uji benda frekuensi dan sebagainya akan dapat menghasilkan informasi-informasi yang lebih lengkap dan amat berharga.

5.   Memberikan Interpretasi dan Menarik Kesimpulan.

Memberikan interpretasi terhadap data hasil evaluasi belajar pada hakikatnya adalah merupakan verbalisasi dari makna yang terkandung dalam data yang telah mengalami pengolahan dan penganalisisan itu. Atas dasar interpretasi terhadap data hasil evaluasi itu pada akhirnya dapat dikemukakan kesimpulan-kesimpulan tertentu. Kesimpulan-kesimpulan hasil evaluasi itu sudah barang tentu harus mengacu kepada tujuan dilakukannya evaluasi itu sendiri.

6.  Tindak Lanjut Hasil Evaluasi.

Bertitik tolak dari hasil evaluasi yang telah disusun, diatur, diolah, dianalisis dan disimpulkan sehingga dapat diketahui apa makna yang terkandung di dalamnya, maka pada akhirnya evaluator akan mengambil keputusan dan merumuskan kebijakan-kebijakan yang dipandang perlu sebagai tindak lanjut dari kegiatan hasil evaluasi tersebut. Harus senantiasa diingat bahwa setiap kegiatan evaluasi menuntut adanya tindak lanjut yang konkrit. Tanpa diikuti oleh tindak lanjut yang konkrit, maka pekerjaan evaluasi itu hanya akan sampai kepada pernyataan, yang menyatakan bahwa; “saya tahu, bahwa begini dan itu begitu”. Apabila hal seperti itu terjadi, maka kegiatan evaluasi itu sebenarnya tidak banyak membawa manfaat bagi evaluator.

E.  Pelaksanaan Penilaian Berbasis Kelas dalam Proses Pembelajaran.

Pembelajaran pada hakekatnya adalah proses interaksi antara peserta didik dengan lingkungannya sehingga terjadi perubahan perilaku ke arah yang lebih baik. Dalam interaksi tersebut banyak sekali faktor yang mempengaruhinya, baik faktor internal yang datang dari diri individu maupun faktor eksternal yang datang dari lingkungan.

Dalam pembelajaran tugas guru yang paling utama adalah mengkondisikan lingkungan agar menunjang terjadinya perubahan perilaku bagi peserta didik. Umumnya pelaksanaan pembelajaran mencakup 3 (tiga) tahapan yang dalam 3 (tiga) tahapan tersebut dapat dilakukan penilaian kelas. Tiga tahapan dimaksud, antara lain: (1) Pretest (tes awal). (2) Proses Pembelajaran. (3) Postest (tes akhir).

Sumber:

http://udhiexz.wordpress.com/2010/02/10/penilaian-berbasis-kelas/

PENILAIAN BERBASIS KELAS

Dalam implementasi KTSP sebaiknya guru menggunakan penilaian berbasis kelas yang memandu sejauh mana transformasi pembelajaran di kelas. Authentik assessment (penilaian yang sebenarnya) menjadi acuan dalam penilaian di kelas, artinya penilaian tentang kemajuan belajar siswa diperoleh di sepanjang proses pembelajaran. Oleh karena itu penilaian tidak hanya dilakukan pada akhir periode tetapi dilakukan secara terintregrasi dari kegiatan pembelajaran dalam arti kemajuan belajar dinilai dari proses bukan semata-mata hasil.

Asesment kelas suatu istilah umum yang meliputi prosedur prosedur yang digunakan untuk memperoleh informasi tentang pembelajaran peserta didik (pengamatan, tingkat performans, tes tertulis) untuk dijadikan pertimbangan pemberian nilai dengan memperhatikan kemajuan belajarnya (Linn dkk., 1995: 5).

Penilaian harus mencakup tiga aspek kemampuan, yaitu kognitif, afektif, dan psikomotor yang dapat berbentuk tes tertulis, performance, penugasan, atau proyek, dan portofolio. Penilaian kognitif semata-mata menilai sejauh mana seorang siswa memiliki pengetahuan terhadap fakta, konsep, dan teori. Penilaian ketrampilan mengukur kemampuan motorik siswa dalam ”bekerja ilmiah” mengikuti langkah-langkah yang harus dilakukan dalam melakukan kegiatan.

Tujuan dari penilaian adalah untuk mengukur seberapa jauh tingkat keberhasilan proses belajar mengajar yang telah dilaksanakan, dikembangkan dan ditanamkan di sekolah serta dapat dihayati, diamalkan/diterapkan, dan dipertahankan oleh siswa dalam kehidupan sehari-hari. Di samping itu penilaian juga bertujuan untuk mengetahui seberapa jauh keberhasilan guru dalam melaksanakan proses pembelajaran, yang digunakan sebagai feedback/umpan balik bagi guru dalam merencanakan proses pembelajaran selanjutnya. Hal ini dimaksudkan untuk mempertahankan, memperbaiki dan menyempurnakan proses pembelajaran yang dilaksanakan (Sudjana, 2002: 2). Penilaian ini harus dilakukan secara jujur, dan transparan agar dapat mengungkap informasi yang sebenarnya (Mulyasa, 2002: 183).

Prinsip-Prinsip Penilaian

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam melaksanakan penilaian berdasarkan Kebijakan Kurikulum Berbasis Kompetensi 2002 (Fajar, 2002: 184) adalah:

  1. Valid, artinya penilaian harus memberikan informasi yang akurat tentang hasil belajar siswa, misalnya apabila pembelajaran menggunakan pendekatan eksperimen maka kegiatan melakukan eksperimen harus menjadi salah satu obyek yang dinilai.
  2. Mendidik, artinya penilaian harus memberikan sumbangan positif terhadap pencapaian belajar siswa. Hasil penilaian harus dinyatakan dan dapat dirasakan sebagai penghargaan bagi siswa yang berhasil atau sebagai pemicu semangat belajar bagi yang kurang berhasil.
  3. Berorientasi pada kompetensi, artinya penilaian harus menilai pencapaian kompetensi yang dimaksud dalam kurikulum.
  4.  Adil, artinya penilaian harus adil terhadap semua siswa dengan tidak membedakan latar belakang sosial-ekonomi, budaya, bahasa, dan jender.
  5. Terbuka, artinya kriteria penilaian dan dasar pengambilan keputusan harus jelas dan terbuka bagi semua pihak (siswa, guru, sekolah, orang tua, dan pihak laian yang terkait).
  6. Berkesinambungan, artinya penilaian dilakukan secara berencana, bertahap dan terus menerus untuk memperoleh gambaran tentang perkembangan belajar siswa sebagai hasil kegiatan belajarnya.
  7. Menyeluruh, artinya penilaian dapat dilakukan dengan berbagai teknik dan prosedur termasuk mengumpulkan berbagai bukti hasil belajar siswa. Penilaian terhadap hasil belajar siswa meliputi pengetahuan (kognitif), keterampilan (psikomotor), sikap dan nilai (afektif) yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak.
  8. Bermakna, artinya penilaian hendaknya mudah dipahami, mempunyai arti, berguna dan bisa ditindaklanjuti oleh semua pihak.
    Dalam penelitian ini semua unsur penilaian digunakan untuk melihat aspek-aspek pada portofolio apakah akan mengalami pertumbuhan/peningkatan.Instrumen Penilaian
    Untuk memperoleh hasil penilaian, guru dapat menyiapkan intrumen penilaian (Fajar, 2002: 185) yang dapat berupa:
    a. Soal tes tertulis
    b. Soal tes lisan
    c. Lembar observasi
    d. Lembar portofolio
    e. Lembar skala sikap
    f. Lembar cheklist
    g. Lembar pedoman wawancara
    h. Lembar pedoman pengamatan
    i. Lembar pedoman penelitian, dan sebagainya.

Lembar-lembar intrumen di atas dapat disusun sesuai dengan kebutuhan dan kreativitas guru, atau bahkan dapat melibatkan siswa dalam perancangannya. Dengan mengikut sertakan siswa, diharapkan siswa akan lebih bertanggung jawab dalam melaksanakan tugas-tugas yang diberikan kepadanya, di samping itu juga melatih dan membiasakan siswa untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan kreatif.

Dalam membuat penilaian yang akurat dan adil guru harus bersikap optimal, yaitu: (a) Memanfaatkan berbagai bukti hasil kerja siswa dari sejumlah penilaian yang dilakukan dengan berbagai strategi dan cara, (b) Membuat keputusan yang adil terhadap penguasaan yang adil terhadap penguasaan kemampuan siswa dengan mempertimbangkan hasil kerja yang dikumpulkan.

Dari penggunaannya yang dipandang sudah valid, penilaian mempunyai pengaruh langsung pada pembelajaran. Hasil penilaian yang diperoleh menjadi penting dan dapat dipercaya. Instrumen instrumen penilaian itu sendiri dapat dibentuk dan mempengaruhi kurikulum. Dengan demikian, penilaian menjadi suatu bentuk komunikasi yang menyampaikan suatu pesan dari guru kepada siswa mengenai apa yang penting untuk diketahui.

Hasil penilain yang digunakan oleh guru guru dapat dijadikan dasar bagi pengambil keputusan mengenai keefektifan program pendidikan secara umum. Ini merupakan kemampuan dan keterampilan guru sebagai individu. Kualitas keputusan guru ditentukan oleh bagaimana mereka dapat menyimpulkan apa yang dibutuhkan peserta didik.

Sumber:

http://anwarholil.blogspot.com/2008/04/penilian-berbasis-kelas.html

KONSEP DASAR MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH

Manajemen Pendidikan

Manajemen Pendidikan merupakan suatu proses kerjasama yang sistematik, sistemik dan komprehensif dalam rangka mewujudkan tujuan pendidikan. Selain itu Manajemen pendidikan juga dapat diartikan sebagai segala sesuatu yang berkenan dengan pengelolaan proses pendidikan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan Manajemen baik tujuan jangka pendek , menengah dan jangka panjang. Manajemen atau pengelolaan merupakan komponen integral dan tidak dapat dipisahkan dari proses pendidikan secara keseluruhan. Karena tanpa Manajemen tidak mungkin tujuan pendidikan dapat terwujud secara optimal, efektif & efisien. Dalam kerangka inilah akan tumbuh kesadaran akan arti pentingnya Manajemen berbasis sekolah, yang memberikan kewenangan penuh kepada sekolah dan guru dalam mengatur pendidikan & pengajaran, merencanakan, mengorganisasi, mengawasi, memepertanggungjawabkan, mengatur, serta memimpin SDM untuk membantu pelaksanaan pembelajaran yang sesuai dengan tujuan sekolah. Manajemen berbasis sekolah harus disesuaikan dengan kebutuhan dan minat peserta didik, guru – guru, serta kebutuhan masyarakat setempat. Untuk itu perlu dipahami betul tentang fungsi – fungsi pokok Manajemen yaitu Perencanaan, Pelaksanaan, Pengawasan & Pembinaan. Dalam prakteknya keempat funsi tersebut merupakan suatu proses yang berkesinambungan. Berikut penjabaran luas tentang fungsi – fungsi pokok Manajemen berbasis sekolah :

1.Perencanaan

Perencanaan merupakan proses yang sistematis dalam pengambilan keputusan Manajemen tentang tindakan yang akan dilakukan Manajemen pada waktu yang akan datang. Perencanaan ini juga merupakan kumpulan kebijakan yang secara sistematik disusun dan dirumuskan berdasarkan data yang dapat dipertanggungjawabkan serta dapat dipergunakan sebagai pedoman kerja. Dalam perencanaan terkandung makna pemahaman terhadap apa yang dikerjakan , permasalahan yang dihadapi dan alternative pemecahannya serta untuk melaksanakan prioritas kegiatan yang telah ditentukan secara proporsional

2.Pelaksanaan

Pelaksanaan merupakan kegiatan untuk merealisasikan rencana Manajemen menjadi tindakan nyata dalam rangka mencapai tujuan Manajemen secara efektif & efisien. Rencana yang telah disusun oleh Manajemen akan memiliki nilai jika dilaksanakan dengan efektif dan efisien. Dalam pelaksanaan setiap organisasi harus memiliki kukuatan yang mantap dan meyakinkan sebat jika tidak kuat maka proses pendidikan seperti yang diinginkan akan sulit terealisasi.

3.Pengawasan

Pengawasan merupakan upaya untuk mengamati secara sistematis dan berkesinambungan, merekam, memberi penjelasan,petunjuk, pembinaan, dan meluruskan berbagai hal yang kurang tepat, serta memperbaiki kesalahan. Pengawasan merupakan kunci keberhasilan dalam keseluruhan proses Manajemen, perlu dilihat secara komprehensif, terpadu, dan tidak terbatas pada hal – hal tertentu.

4. Pembinaan

Pembinaan merupakan rangkaian upaya pengendalian secara professional semua unsur organisasi agar berfungsi sebagaimana mestinya sehingga rencana  Manajemen untuk mencapai tujuan dapak terlaksana secara efektif & efisien. Pelaksanaan Manajemen sekolah yang efektif dan efisien menuntut dilaksanakannya keempat fungsi pokok Manajemen tersebut secara terpadu dan terintegrasi dalam pengelolaan bidang – bidang kegiatan Manajemen pendidikan. Manajemen Pendidikan merupakan alternative strategis untuk meningkatkan mutu / kualitas pendidikan, karena hasil penelitian Balitbangdikbud ( 1991) menunjukan bahwa manajemen pendidikan merupakan salah satu factor yang mempengaruhi kualitas pendidikan.

Ketentuan otonomi daerah yang dilandasi oleh undang – undang nomer 22 dan nomor 25 tahun 1999 telah membawa perubahan dalam berbagai bidang. Bila sebelumnya Manajemen pendidikan merupakan wewenang pusat maka sekarang kewenangan tersebut dialihkan ke pemerintah kota atau kabupaten. Sehubungan dengan itu kebijakan penyelenggaraan pendidikan nasional yang perlu di rekonstruksi dalam otonomi daerah, berkaitan dengan peningkatan mutu pendidikan, efisiensi pengelolaan pendidikan, serta relevansi pendidikan dan pemerataan pelayanan pendidikan adalah seebagai berikut:

1. Upaya peningkatan mutu pendidikan dilakukan dengan menetapkan tujuan dan standard kopentensi pendidikan, yaitu melalui kosensus nasional antara pemerintah dengan seluruh lapisan masyarakat. Standard kopentensi yang mungkin akan berbeda antar sekolah atau antar daerah akan menghasilkan standard kopetensi nasional dalam tingkatan standard minimal, normal ( mainstream ) dan unggulan.

2. Peningkatan efisiensi pengelolaan pendidikan mengarah pada pengelolaan Manajemen pendidikan berbasis sekolah, dengan member kepercayaan yang lebih luas kepada sekolah untuk mengoptimalkan sumber daya yang tersedia bagi pencapainnya tujuan pendidikan yang diharapkan.

3. Peningkatan relevansi pendidikan mengarah pada Manajemen pendidikan berbasis masyarakat. Peningkatan peran serta orang tua dan masyarakat pada level kebijakan ( pengambilan keputusan ) dan level operasional melalui komite ( dewan ) sekolah. Komite ini terdiri dari kepala sekolah, guru senior, wakil orang tua, tokoh masyarakat, dan perwakilan siswa. Dimana peran dari pada komite ini meliputi perencanaan, implementasi, monitoring, serta evaluasi program kerja sekolah.

4. Pemerataan Pelayanan pendidikan mengarah pada pendidikan yang berkeadilan. Hal iniberkenaan dengan penerapan formula pembiayaan pendidikan yang adil & transparan, upaya pemerataan mutu pendidikan dengan adanya standard kopetensi minimal, serta pemerataan pelayanan pendidikan bagi siswa pada semua lapisan masyarakat.

Prinsip – prinsip Manajemen pendidikan :

1. prinsip Manajemen Pendidikan yang berorientasi pada tujuan, dengan menetapkan tujuan – tujuan yang harus dicapai peserta didik dalam mempelajari pelajaran.

2. prinsip Manajemen pada efisiensi dan efektifitas dalam pengunaan dana, daya, dan waktu dalam mencapai tujuan pendidikan.

3. Prinsip Manajemen pendidikan pada fleksibilitas program, dalam pelaksanaan, suatu program hendaknya mempertimbangkan faktor – faktor ekosistem dan kemampuan penyediaan fasilitas yang menunjang.

4. Prinsip kontinuitas, dengan menyiapkan peserta didikagar mampu melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

5. Prinsip pendidikan seumur hidup, yang memandang bahwa pendidikan tidak hanya di sekolah, tetapi harus dilanjutkan dalam keluarga dan masyarakat. Jadi peserta didik perlu memiliki kemampuan belajar sebagai persiapan belajar di masyarakat.

6. Prinsip relevansi, suatu pendidikn akan bermakna apabila kurikulum yang dipergunakan relevan ( terkait ) dengan kebutuhan dan tuntutan masyarakat.

Apabila bapak/ibu membutuhkan Konsultan prinsip Manajemen berbasis sekolah, Silahkan menghubungi kami sebagai ahli dibidang Konsultan prinsip Manajemen berbasis sekolah, prinsip Manajemen Bisnis strategi, Consultant Business Strategic, Konsultant Pengembangan Bisnis & Marketing Strategi

tujuan daripada Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) :

1. Meningkatkan mutu pendidikan melalui kemandirian dan inisiatif sekolah dalam mengelola dan memberdayakan sumber daya yang ada.
2. Meningkatkan kepedulian warga sekolah dan masyarakat dalampenyelenggaraan pendidikan melalui pengambilan keputusan bersama.
3. Meningkatkan tanggung jawab sekolah kepada masyarakat.
4. Meningkatkan persaingan yang sehat antar sekolah tentang mutupendidikan yang ingin dicapai.

Penjelasan mengenai Kosep Dasar Manajemen Berbasis Sekolah (MBS)
1. Konsep dasar Manajemen Berbasis Sekolah adalah manajemen yangbernuansa otonomi, kemandirian dan demokratis.

a. Otonomi, dimaknai sebagai kewenangan sekolah dalam mengaturdan mengurus kepentingan sekolah dalam mencapai tujuan sekolah untuk menciptakan mutu pendidikan yang baik.
b. Kemandirian, dimaknai sebagai langkah dalam pengambilan keputusan,tidak tergantung pada birokrasi yang sentralistik dalam mengelola sumberdaya yang ada, mengambil kebijakan, memilih strategi dan metode dalammemecahkan persoalan yang ada, sehigga mampu menyesuaikan dengan kondisilingkungan dan dapat memanfaatkan peluang – peluang yang ada.
c. Demokratif, dimaknai sebagai keseluruhan elemen-elemen sekolah yang dilibatkandalam menetapkan, menyusun, melaksanakan dan mengevaluasipelaksanaan untuk mencapai tujuan sekolah untuk terciptanya mutu pendidikan sehinggamemungkinkan tercapainya pengambilan kebijakan yang mendapatdukungan dari seluruh elemen-elemen sekolah.

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam memahami Konsep Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) diantaranya adalah :

1. Pengkajian Konsep Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) terutama yang menyankut kekuatan desentralisasi, kekuasaan atau kewenangan di tingkat sekolah, dalam system keputusan harus dikaitkan dengan program dan kemampuan dalam peningkatan kinerja sekolah.
2. Penelitian tentang program Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) berkenaan dengan desentralisasi kekuasaan dan program peningkatan partisipasi ( local stakeholders. Pendelegasian otoritas pengambilan keputusan dalam kaitannya dengan pemberdayaan sekolah, perlu dibangun dengan efektifitas programnya.
3. Strategi Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) harus lebih menekankan kepada elemen manajemen pertisipatif. Kemampuan, informasi dan imbalan yang memadai merupakan elemen-elemen yang sangat menentukan efektifitas program Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) dalam meningkatkan kinerja sekolah.

2. Faktor – factor yang di perhatikan
Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) – School Based Management adalah bentuk alternative sekolah dari program desentralisasi dalam bidang pendidikan. Factor terpenting dalam penentu kinerja sekolah yaitu :
a. Kurikulum
Tujuan kurikulum yang akan dicapai dalam jangka panjang dari kurikulum yang dirancang berdasar MBS :
1. Penguasaan ketrampilan dasar dan proses fundamental
2. Pengembangan Itelektual
3. PEndidikan karir & pendidikan Vokasional
4. Pemahaman interpersonal
5. Moral & karakter etis
6. Keadaan emosional dan fisik
7. Kreatifitas & ekspresi estetika
8. Perwujudan diri.
b. Proses belajr menajar yang relevan
c. Lingkungan Sekolah

3. Karakteristik Manajemen Berbasis Sekolah (MBS)
Karakterisitk Manajemen Barbasis Sekolah tidak terlepas daripendekatan Input, Proses, dan Output Pendidikan.

1. Input Pendidikan
a. Memiliki kebijakan, tujuan dan sasaran mutu yang jelas.
b. Tersedianya sumber daya yang kompetitif dan berdedikasi.
c. Memiliki harapan prestasi yang tinggi.
d. Komitmen pada pelanggan.

2. Proses Pendidikan
a. Efekttivitas dalam proses belajar mengajar tinggi.
b. Kepemimpinan yang kuat.
c. Lingkungan sekolah yang nyaman.
d. Pengelolaan tenaga kependidikan yang efektif.
e. Tim kerja yang kompak dan dinamis.
f. Kemandirian, partisipatif dan keterbukaan (transparasi).
g. Evaluasi dan perbaikan secara berkelanjutan.
h. Responsif, antisipatif, komunikatif dan akuntabilitas.

3. Output yang diharapkan
Pada dasarnya output yang diharapkan merupakan tujuan utama daripenyelenggaraan pendidikan secara umum.

Langkah-langkah Perumusan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS).

Untuk merumuskan implementasi manajemen berbasis sekolah harus ada tahapan-tahapan sebagai berikut :
1. Perencanaan Pada langkah awal perumusan MBS, hal-hal yang perlu dilaksanakan adalah:

a. Mengidentifikasi sistem, budaya dan sumber daya, mana yang perludipertahankan dan mana yang harus dirubah dengan memperkenalkanterlebih dahulu format yang baru dan tentunya lebih baik.
b. Membuat komitmen secara rinci yang diketahui oleh semua unsur yangbertanggung jawab, jika terjadi perubahan sistem, budaya dan sumberdaya yang cukup mendasar.
c. Hadapilah penolakan terhadap perubahan dengan memberi pengertianakan pentingnya perubahan demi mencapai tujuan bersama.
d. Berkerja dengan semua unsur sekolah dalam menjelaskan ataumemaparkan visi, misi, tujuan, sasaran, rencana dan program-programpenyelenggaraan MBS.
e. Menggaris bawahi prioritas sistem, budaya dan sumber daya yangbelum ada dan sangat diperlukan.

2. Mengidentifikasi Tantangan Nyata Sekolah Pada umumnya tantangan sekolah bersumber pada output (lulusan)sekolah yang meliputi kualitas, produktifitas, efektibilitas dan efisiensi.Maka sangat diperlukan identifikasi dari hasil analisis output untukmengetahui tingkat kualitas, produktifitas, efektibilitas dan efisiensi darioutput yang dihasilkan melalui penyelenggaraan pendidikan.

3. Merumuskan visi, misi, tujuan sasaran sekolah yang dapat menjamin kelangsungan hidup dan perkembangan sekolah.

– Visi adalah gambaran masa depan yang diinginkan oleh sekolah, agarsekolah yangbersangkutan
dapat menjamin kelangsungan hidup dan perkembangannya.
– Misi adalah tindakan untuk mewujudkan atau merealisasikan visitersebut.
– Tujuan adalah apa yang ingin dicapai atau dihasilkan oleh sekolahyang bersangkutan dan kapan tujuan itu mungkin dicapai.
– Sasaran adalah penjabaran tujuan yang akan dicapai oleh sekolahdalam jangka waktu lebih pendekdibandingkan dengan tujuan sekolah.Rumusannya harus berupa peningkatan yang spesifik, terukur, jelas kriterianya dan disertai indicator yang rinci.

4. Mengidentifikasi fungsi-fungsi yang diperlukan untuk mencapai sasaran.
Fungsi-fungsi yang dimaksud adalah unsur-unsur kegiatan beserta unsurunsurpendukungnya yang saling berkaitan dan tidak dapat berdiri sendiri.Sejauh mana kesiapan fungsi-fungsi tersebut terhadap kegiatan yang akan dilaksanakan dalam mencapai sasaran.

5. Melakukan analisis potensi lingkungan (analisis SWOT)
Analisis SWOT dilakukan dengan maksud untuk mengenali kesiapan setiap fungsi dari keseluruhan fungsi sekolah yang diperlukan utnuk mencapai sasaran yang telah ditetapkan.
Prinsip analisis SWOT adalah :
– Kekuatan-kekuatan apa yang kita miliki ?
– Bagaimana memanfaatkannya ?
– Kelemahan-kelemahan apa yang kita miliki ?
– Bagaimana meminimalkannya ?
– Peluang-peluang apa yang ada ?
– Bagaimana memanfaatkannya ?
– Ancaman apa yang mungkin menghambat keberhasilan ?
– Bagaimana mengatasinya ?

6. Memilih langkah-langkah alternatif pemecahan persoalan.

Dalam setiap kegiatan dimungkinkan adanya permasalahan yang timbul.
Hendaklah kita tidak menghindari masalah akan tetapi harus kita hadapi
dengan solusi pemecahan yang sudah kita rencanakan sebelumnya.

7. Menyusun Rencana Program Peningkatan Mutu.

Penyusunan program peningkatan mutu harus disertai langkah-langkahpemecahanan persoalan yangmungkin terjadi. Fungsi yang terlibat besertaunsur-unsurnya membuat rencana program untuk jangka pendek,menengah dan jangka panjang serta bersama-sama merealisasikan rencana program tersebut.

8. Melaksanakan Rencana Program Peningkatan Mutu

Dalam melaksanakan rencana peningkatan mutu maka fungsi-dungsiterkait hendaknya memanfaatkan sumber daya secara maksimal, efektifdan efisien.

9. Melakukan Evaluasi Pelaksanaan

Untuk mengetahui tingkat keberhasilan program, sekolah perlu mengadakan evaluasi pelaksanaan program, baik program jangka pendek maupun program jangka panjang.

10. Merumuskan Sasaran Peningkatan Mutu Baru.
Dari hasil evaluasi kita dapat memperoleh tingkat keberhasilan dankegagalannya sehingga dapat memperbaiki kinerja program yang akandatang. Disamping itu evaluasi juga sangat berguna sebagai bahan masukan bagi sekolah untuk merumuskan sasaran (tujuan) peningkatan mutu untuk tahun yang akan datang.

Manfaat Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) akan menghasilkan nilai positif bagi sekolah antara lain :

1. Sekolah lebih mengetahui kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman bagi sekolah yang bersangkutan sehingga sekolah dapat lebih mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya yang ada.
2. Sekolah lebih mengetahui kebutuhan skala prioritas.
3. Pengambilan keputusan lebih partisipatif terutama dalam hal :
a. Menetapkan sasaran peningkatan mutu
b. Menyusun rencana peningkatan mutu
c. Melaksanakan rencana peningkatan mutu
d. Melakukan evaluasi pelaksanaan peningkatan mutu.
4. Penggunaan dana lebih efektif dan efisien sesuai dengan skala prioritasnya
5. Keputusan bersama lebih menciptakan transparasi dan demokrasi
6. Dapat lebih meningkatkan rasa tanggung jawab.
7. Menumbuhkan persaingan sehat sehingga diharapkan adanya upaya inovatif.

pengelolaan kelas inklusif dengan mempertimbangkan

  • Tempat duduk
  • Jumlah siswa/jenis ABK
  • Posisi guru kelas dan pendamping khusus
  • Pajangan
  • Pencahayaan kelas
  • asesibilitas
  1. tempat duduk

Peserta didik harus dapat bergerak bebas di antara meja dan kursi. Tempat duduk disusun sedemikian rupa sehingga memungkinkan peserta didik dapat juga duduk di lantai tanpa mengganggu kegiatan pembelajaran atau kerja kelompok. Sehingga peserta didik tidak merasa bosan dan dapat leluasa bergerak. Guru yang baik dapat menciptakan lingkungan belajar yang menarik dan menyenangkan bagi semua peserta didik tanpa memandang usia, karakteristik,jenis kelamin, kemampuan atau latar belakangnya. Kelas sebagai lingkungan pembelajaran seharusnya tidak terbatas dalam ruangan. Peserta didik dapat belajar di dalam atau di luar ruangan.

Kelas seperti inilah yang merupakan tempat belajar yang menyenangkan, yang aman dan nyaman serta merangsang peserta didik untuk belajar. Walaupun media pembelajarannya sulit ditemukan dan sarana belajarnya tidak memadai, tetapi kelas dapat dirancang teratur, bersih dan menarik.Jika memungkinkan, meja dan kursi sebaiknya bisa dipindahkan dengan mudah untuk pembelajaran kerja kelompok. Bisa saja menggunakan lebih dari satu papan tulis atau media menulis lainnya yang sesuai. Selain itu harus ada pengaturan tempat pemajangan hasil karya peserta didik, sehingga mereka merasa bangga dan dapat menunjukkan potensi dan keterlibatannya di kelas. Pojok belajar juga dapat diatur untuk aktivitas mata pelajaran tertentu, atau dapat dibuat “perpustakaan”.

  1. Jumlah siswa/jenis ABK

Sebelum pendidikan inklusif pada suatu sekolah dilaksanakan pihak sekolah mengedentifikasi terlebih dahulu peserta didik dengan program PPI ( program pembelajaran individu) dan program assessment, ini bertujuan untuk mengidentifikasi peserta didik sebelum mendapatkan pelayanan pendidikan. Jumlah siswa didalam kelas perlu diperhatikan juga, ditakutkan kondisi kelas yang seumpamaya sempit akan membuat anak merasa gerah dan bosan dalam menerima materi. Kreatifitas guru dalam pengelolaan kelas sangat dibutuhkan apalagi tuntutan sekolah inklusif di negeri ini sangat diperlukan. Seimbangkan pendapatan hak pendidikan antara peserta didik yang normal dan berkebutuhan khusus denagn meperhatikan jumlah peserta didik dikelas. Sehingga harapannya tidak terjadi kecemburuan antara peserta didik satu dengan lainnya.

  1. Posisi guru kelas dan pendamping khusus

Guru kelas adalah pendidik/pengajar pada suatu kelas tertentu di Sekolah umum yang sesuai dengan kualifikasi yang dipersyaratkan, bertanggungjawab atas pengelolaan pembelajaran dan adiministrasi di kelasnya.  Guru Pendidikan khusus adalah guru yang mempunyai latar belakang pendidikan khusus/Pendidikan luar biasa atau yang pernah mendapat pelatihan tentang pendidikan khusus/luar biasa, yang ditugaskan di sekolah inklusif. Guru kelas dan guru pendamping khusus harus berkalborasi sehingga menciptakan suasana kelas yang kondusif sesuai kelas inklusif. Tugas Guru Kelas antara lain sebagai berikut :

  1. Menciptakan iklim belajar yang kondusif sehingga anak-anak merasa nyaman belajar di kelas/sekolah.
  2. Menyusun dan  melaksanakan asesmen pada semua anak untuk mengetahui kemampuan dan kebutuhannya
  3. Menyusun  program pembelajaran individual (PPI) bersama-sama dengan guru pendidikan khusus (GPK).
  4. Melaksanakan kegiatan belajar-mengajar  dan mengadakan penilaian untuk semua mata pelajaran (kecuali Pendidikan Agama dan Pendidikan Jasmani dan Kesehatan ) yang menjadi tanggung jawabnya.
  5. Memberikan program remedi pengajaran  (remedial teaching), pengayaan/percepatan bagi peserta didik yang membutuhkan.
  6. Melaksanakan administrasi kelas sesuai dengan bidang  tugasnya.

Tugas Guru Pendidikan  Khusus antara lain sebagai berikut

  1. Menyusun instrumen asesmen pendidikan bersama-sama dengan guru kelas dan guru mata pelajaran
  2. Membangun system koordinasi antara guru, pihak sekolah dan orang tua peserta didik.
  3. Melaksanakan pendampingan anak berkebutuhan khusus pada kegiatan pembelajaran bersama-sama dengan guru kelas/guru mata pelajaran/guru bidang studi.
  4. Memberikan bantuan layanan khusus bagi anak-anak berkebutuhan khusus yang mengalami hambatan dalam mengikuti kegiatan pembelajaran di kelas umum, berupa remidi ataupun pengayaan.
  5. Memberikan bimbingan secara berkesinambungan dan membuat catatan khusus kepada anak-anak berkebutuhan khusus selama mengikuti kegiatan pembelajaran, yang dapat dipahami jika terjadi pergantian guru.
  6. Memberikan bantuan (berbagi pengalaman) pada guru kelas dan/atau guru mata pelajaran agar mereka dapat memberikan pelayanan pendidikan kepada anak-anak berkebutuhan khusus.
  1. Pajangan

Pemajangan hasil karya peserta didik di dalam dan di luar kelas diharapkan membuat mereka tertarik pada pembelajaran tertentu dan merasa sebagai bagian dari kelas. tempat pemajangan ini akan membuat orangtua lebih tertarik dalam memahami hasil pembelajaran anaknya. Karya SEMUA peserta didik harus dipajang dengan tepat untuk menunjukkan kemampuan unik mereka. Peserta didik pasti akan senang melihat namanya tertera pada karyanya yang dipajang. Hal ini dapat membuat peserta didik merasa bangga. Penataan pajangan dapat diubah dan diganti secara berkala agar peserta didik tetap merasa dihargai dan tertarik dengan pembelajaran. Karya yang dipajang dapat juga dimanfaatkan sebagai portofolio peserta didik. Tempat pemajangan yang menarik bisa menjadi alat pengajaran dan akan meningkatkan motivasi belajar peserta didik. Tempat pemajangan dapat terbuat dari bahan lokal seperti palem yang dianyam dengan bantuan masyarakat setempat. Papan pemajangan itu penting karena memberikan kesempatan:

  • Untuk memberikan informasi kepada peserta didik;
  • Untuk memajangkan karya peserta didik dan

meningkatkan penghargaan diri;

  • Untuk memperkuat pelajaran yang telah Anda ajarkan;
  • Untuk memberikan umpan balik tentang kegiatan penting seperti “mencari”,

kegiatan di rumah dan meneliti di masyarakat;

  • Untuk mendorong peserta didik bekerja bersama-sama dan saling membantu

apapun latar belakang atau kemampuan mereka; dan

  • Memastikan semua peserta didik dapat saling belajar dari karyanya.

Jika kelas tidak memiliki dinding yang kokoh, karya tulis dan gambar peserta didik dapat dipajang pada tali yang melintas di atas kelas atau melintasi dinding. Hasil ajangan karya peserta didik bisa dengan mudah dikaitkan pada tali menggunakan plester, lem atau paku payung.

  1. Pencahayaan kelas

Atur meja sehingga peserta didik tidak harus bekerja menghadap sinar matahari secara langsung. Cahaya harus datang dari sisi kiri peserta didik.Karena otak butuh oksigen, sedangkan suasana kelas sesak dan ventilasi udara buruk, maka Anda dapat melakukan pembelajaran di luar kelas. Posisi tempat duduk peserta didik digilir sehingga mereka tidak selalu duduk di tempat yang cahaya dan ventilasinya buruk.Beberapa peserta didik mungkin mengalami kesulitan melihat atau mendengar. Pastikan semua peserta didik telah diases dan mempunyai tempat duduk yang sesuai dengankebutuhannya.

  1. Asesibilitas

Pemberian layanan alat bantu untuk memperlancar kegiatan belajar. Dari PPI dan assesmet tadi guru akan menindaklanjuti apa yang dibutuhkan peserta didik khususnya anak berkebutuhan khusus. Seperti

  • Tunanetra reglet, tongkat, printerbraille, software JAWS, barille
  • Tunarungu yaitu dengan pemberian alat bantu dengar, pembelajaran bahsa isyarat
  • Tunadaksa yaitu dengan penopang kaki, tongkat ketiak, kendaraan beroda tiga, dan lain sebagainya.

DAFTAR PUSTAKA

Departemen Pendidikan Nasional at all, (2007), Merangkul Perbedaan: Perangkat untuk Mengembangkan Lingkungan Inklusif, Ramah terhadap Pembelajaran, Jakarta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s